Menu

Mode Gelap
Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Seremonial Tanpa Makna? Capaian Investasi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan Respon Aduan Warga, Pamapta Polres Purwakarta Turun Langsung ke Lapangan Ketum PWI Pusat Pimpin Delegasi Indonesia ke General Assembly CAJ di Malaysia Dampak Aktivitas Truk Pengangkut Batu Bara, Warga Keluhkan Jalan Berdebu Dan Dinding Rumah Retak Sah! Lampung Resmi Jadi Tuan Rumah HPN dan Porwanas 2027

OPINI

Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Seremonial Tanpa Makna?

badge-check


					Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Seremonial Tanpa Makna? Perbesar

Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei sejatinya bukan sekadar seremonial mengenang sosok Ki Hajar Dewantara. Hari ini adalah “alarm” pengingat bagi kita semua bahwa tulisan memiliki kekuatan destruktif sekaligus konstruktif yang mampu mengubah arah sejarah.

Purwakarta, Infoindependen.com – Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar Dewantara bukan hanya seorang pendidik, melainkan seorang penulis yang tajam. Salah satu mahakaryanya yang mengguncang adalah artikel berjudul “Als ik eens Nederlander was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda”.

Melalui tulisan itu, beliau melayangkan kritik pedas: jika beliau menjadi orang Belanda, beliau akan merasa malu merayakan kemerdekaan di depan bangsa yang hak kemerdekaannya sedang ia injak-injak. Beliau menganggap sebuah penghinaan besar ketika rakyat Indonesia dipaksa menyumbang untuk pesta kemerdekaan penjajahnya sendiri.

Tulisan tersebut menciptakan kegemparan luar biasa dan mempengaruhi massa. Ini adalah bukti autentik bahwa kata-kata di tangan seorang yang berani bukan lagi sekadar teks, melainkan senjata yang ditakuti oleh kekuasaan kolonial Belanda. Dampaknya tidak main-main; akibat tulisan tersebut, beliau dianggap ancaman nyata dan diasingkan oleh pemerintah kolonial.

Di era digital saat ini, pintu untuk menulis telah terbuka lebar. Siapa pun dapat menuangkan pikiran melalui buku, media sosial, hingga berbagai platform digital. Namun ironisnya, kesempatan emas ini sering kali terbuang percuma.

Banyak orang terjebak dalam rasa tidak percaya diri, merasa tulisannya buruk, tidak bernilai, hingga akhirnya berhenti di tengah jalan. Overthinking dan ketakutan bahwa tidak akan ada yang membaca membuat ide-ide cemerlang berakhir membusuk di folder draf yang tak pernah selesai.

Jika dahulu menulis mengandung risiko fisik yang besar (pengasingan dan penjara), hari ini banyak orang justru takut menulis karena alasan psikologis: takut dinilai, dikritik, atau disalahpahami.

Kecemasan dianggap “bodoh” atau “salah” menjadi penghambat, padahal jika kita berkaca pada Ki Hajar Dewantara, sebuah tulisan hebat lahir dari rahim keberanian dan kejujuran.

Segala sesuatu yang besar selalu dimulai dari langkah sederhana: menulis. Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk mulai berani berpikir dan menuangkan ide. Tidak perlu langsung melahirkan karya monumental; mulailah dengan tulisan sederhana dan keberanian untuk menyampaikannya kepada dunia.

Sudah saatnya generasi sekarang bertransformasi dari sekadar pembaca menjadi penulis. Bisa jadi, dari satu paragraf sederhana yang Anda tulis, lahir perubahan besar yang tak terduga. Jika dahulu tulisan mampu melawan penjajah, mengapa hari ini kita masih takut hanya untuk menulis opini sendiri?

Pertanyaannya bukan lagi tentang “bisa atau tidak bisa menulis”, melainkan “berani atau tidak”. (Jgs)

Penulis: Anis Nurvita Dewi, S.Pd. – Seorang guru dan Leader Teman Pintar Purwakarta. 

Baca Lainnya

Gonjang-ganjing Isu Mutasi di Purwakarta, Cuma Satu Kepala OPD Sakti Tak Tergoyahkan

14 Januari 2026 - 15:30 WIB

Bahaya Pola “Temuan – Kembalikan – Stop”. Stop Impunitas Pidana

17 September 2025 - 21:28 WIB

Trending di DAERAH