Kontra Versi Warga Kelurahan Tanjung Uma RT 04/RW 04 dengan PT Usaha Jaya Karya Makmur Yang Lokasi Berseberangan Pasar Induk dan Pasar Baru Kecamatan Lubuk Baja, Batam.

Batam,Infoindependen.com- Warga Tanjung Uma RT 04/RW 04 merasa di rugikan, Akibat penumpukan tanah timbun yang menjadikan seperti gunung buatan di depan wilayah pemukiman warga tersebut.

Awak Media Imfoindependen wawancara salah satu tokoh masyarakat kelurahan tanjung Uma, dengan Bapak Helmi dan Bapak Hotman Simatupang warga paling lama berdomisili di daerah tersebut sudah kurang lebih 30 tahun menempati lokasi pemukiman pinggiran pantai arah timur tanjung uma tersebut berseberangan dengan pasar baru dan pasar Induk yang sudah tidak di pungsikan sekarang.

Warga yang berdomisili di daerah Kelurahan Tanjung Uma tersebut sangat menyesalkan tidak ada kebijakan atau perhatian pemerintah dengan perlakuan PT Usaha Jaya Karya Makmur terhadap penumpukan tanah di depan areal lokasi warga tersebut yang hendak melakukan tender proyek pasar pergantian sosialisasi pasar Induk yg sudah tidak layak di pungsikan para pedagang.

Warga meminta keadilan dan Pemerintah daerah kota Batam jangan tutup mata sebelah, Pemerintah daerah harus bersikap adil terhadap masyarakat kecil, yang pada kronologisnya telah seolah olah membekap pengusaha yang telah merugikan masyarakat tempatan yang lemah di daerah lokasi mereka, tutur Bapak Helmi

Harapan masyarakat yang merasa di rugikan, akibat timbunan seperti gunung buatan di daerah mereka, Sehingga di bawah permukaan pemukiman rumah warga setempat.

Apabila hujan mengakibatkan banjir dan rumah warga sehingga banyak roboh akibat tekanan air keras dari tanah timbun tersebut, apabila hujan lebat air deras dari timbunan proyek PT Usaha Jaya Karya Makmur tersebut, pungkas Bapak Helmi dan Bapak Simatupang.

Ibu Dupe menambahkan juga ibu rumah tangga yang berdomisili di lokasi tersebut sangat sangat kecewa terhadap pemerintah kota Batam, tidak mampu memberikan solusi atau kesejahtraan masyarakat Kelurahan Tanjung Uma di RT 04 /RW 04 yang sudah di pecah belah menjadi pemekaran dan sehingga membawa preman lenkap senjata tajam menakut nakutin warga di sekitarnya tersebut,Ucap Ibu Dupe.

BACA JUGA :  Tuan Rumah GPDRR 2022, BNPB: Harapan Pulihkan Ekonomi Bali.

Bapak Hotman Suami Ibu Dupe warga paling lama berdomisili di tempat, “Menerangkan kepada Awak Media Imfoindependen.com, Sudah melakukan banding tentang persoalan sengketa lahan tersebut di pengadilan tinggi pekan Baru (Riau) akibat kekalahan Pengadilan Negeri Batam, Tutup Bapak Hotman Simatupang.

(Marlon Siburian)