Mempertanyakan Kinerja Polisi, Ratusan Warga Datangi Mapolres Tarakan

Tarakan, infoindependen.com. Ratusan warga yang terdiri dari keluarga, sahabat dan simpatisan korban meninggal akibat pengeroyokan mendatangi Markas Polisi Resor (Mapolres) Tarakan, Kalimantan Utara Jum’at sore (28/8) lalu. “Kami ke sana bukan mau berunjuk rasa atau demo tapi untuk mengetahui sampai dimana proses penanganan kasus meninggalnya Zainal Abidin (28) yang dikeroyok sejumlah orang beberapa minggu lalu,” terang Haji Ali Rafiq, Ketua Kerukunan Keluarga Masyarakat Pangkep (KKMP) Kota Tarakan, Senin (31/8).

Menurut Haji Ali – panggilan akrapnya, peristiwa pengeroyokan itu terjadi tiga Jum’at, atau tepatnya tanggal 14 Agustus 2020 lalu, sementara berita yang tersebar di masyarakat tidak satu orangpun dari belasan pengeroyok yang ditangkap polisi. “Wajar kan, jika penanganan kasus ini diketahui keluarganya. Apa kendalanya dan sudah sejauh mana prosesnya, karena kita percaya Polres Tarakan profesional menangani kasus ini,” sambung Haji Ali.

Memang, Jum’at sore itu, kehadiran warga masyarakat di depan Mapolres Tarakan bukan hanya ratusan. “Yang hadir ini tidak hanya dari pihak keluarga korban saja, tapi dari semua etnis dan suku sehingga jumlahnya bukan hanya ratusan tapi ribuan jumlahnya,” tutur beberapa masyarakat yang ikut hadir sore itu.

Ada alasan yang dapat membenarkan warga Kota terbesar di provinsi termuda ini datang untuk mendengar langsung penjelasan Kapolres dalam menangani kasus ini. Sebab, beberapa kasus seperti penganiayaan Agus yang dibunuh di depan rumah di Karang Anyar Tarakan Barat, disaksikan ayahnya sendiri tidak terungkap hingga sekarang. Padahal, siapa pelakunya bukan tidak diketahui kepolisian nama dan alamatnya, ungkap sejumlah warga.

Sedemikian halnya dengan kasus yang menimpa Zainal Abidin, hanya gara gara bersenggolan sepeda motor pada hari Kamisnya di sebuah gang kecil menuju rumah korban. Orang yang tersenggol itu tidak menerima jawaban korban sehingga keesokan harinya, selesai pulangnya orang shalat Jum’at belasan laki laki mendatangi korban di rumahnya yang terletak di RT 1 Kelurahan Karang Rejo Tarakan Barat mengajak korban dibawa ke suatu tempat. Si korban tidak mau sehingga terjadilah pengeroyokan oleh belasan laki laki dewasa di depan rumah korban.

BACA JUGA :  KPK Tahan Tersangka Perkara Dugaan Suap Kasus Dana Perimbangan Pegunungan Arfak

Korban memang sempat dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Tarakan dengan penuh luka memar dan luka tusuk, dua di bagian perut dan satu dipunggung kiri. “Bekas lukanya kecil, artinya dari bekas luka tusuk yang kelihatan korban ditusuk dengan pisau taji ayam,” kata Syamsuddin (63) tetangga yang ikut memandikan korban.

Kapolres Tarakan, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Fillol Praja Arthadira, SH. S.IK dengan tegas menolak jika ada anggapan masyarakat bahwa Kepolisian Resor Tarakan mengabaikan kasus yang terjadi di wilayah hukumnya. “Kami sudah melaksanakan tugas secara profesional. Sudah ada 13 orang yang diperiksa ditambah seorang saksi ahli,” ujar Fillol menjawab pertanyaan H. Hamka mewakili keluarga korban yang hari itu mendatangi Polres Tarakan disambut sorakan ribuan warga.

Menurut Kapolres Fillol, jangan ada orang yang ingin menghalangi pihaknya dalam menjalankan tugas karena Polres Tarakan sudah melakukannya kerjanya secara profesional. “Barang siapa yang mau mencoba coba bisa dijerat dengan Pasal 176 KUHP,” ingatnya menanggapi pernyataan keluarga bahwa polisi terkesan lamban bekerja menangani kasus ini.

“Bagaimana kita dikatakan menghalangi? Karena sampai sekarang sudah berjalan tiga minggu tak seorangpun pelaku dari belasan tersangka pengeroyokan yang ditahan,” gerutu beberapa keluarga korban. (slpohan)