Mengaku Kesepian, Kakek 71 Tahun Cabuli Anak Angkat Hingga Hamil Dan Meninggal Dunia

Bekasi, Infoindependen.com – Mengaku kesepian, seorang kakek berusia 71 tahun berinisial HS tega mencabuli seorang gadis remaja (ABG) yang tak lain anak angkatnya hingga hamil. Tragisnya, bayi yang dikandung korban berinisial EPJ (15) meninggal dunia dalam kandungan. Selang tiga hari kemudian, kondisi EPJ melemah hingga dia meninggal juga.

Kasus ini ditangani pihak Polres Metro Bekasi Kota setelah menerima pengaduan warga yang curiga dengan kematian EPJ dan bayinya. HS pun kemudian ditangkap dan digiring ke Mapolrestro Bekasi Kota untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Saat pengungkapan kasus di halaman Mapolrestro Bekasi Kota, Kamis (4/7/2019), HS terus menundukan kepalanya.

Kasatreskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Imron Ermawan, mengatakan, HS ditangkap pada Rabu (3/7/2019) dini hari atas laporan warga yang curiga akan kematian korban.

“Ketika itu ada salah seorang warga curiga dengan penyebab kematian anak angkatnya itu. Pelaku bilang pendarahan, ada keanehan, lalu di laporkan ke Polisi,” kata Kompol Imron kepada wartawan.

Dari situlah, perbuatan cabul HS terungkap. Ternyata anak yang dikandung korban merupakan ulah dari kakek tersebut yang juga ayah angkatnya. Ketika itu pada 30 Juni 2019, korban EPJ dibawa ke rumah sakit di daerah Rawalumbu dikarenakan mengalami sakit pada perutnya.

Saat ditangani di rumah sakit, ternyata anak dalam kandungan korban meninggal karena lahir dalam kondisi prematur sekitar usia 5-6 bulan. “Ibunya (korban) masih tidak apa-apa, tapi bayinya meninggal. Lalu pelaku kuburkan bayi itu dalam pot di lantai dua rumah pelaku,” jelas Kompol Imron.

Kemudian korban sempat dibawa pulang ke rumah. Namun kondisinya melemah dan pada Selasa 2 Juli pukul 16.00 WIB korban dibawa kembali ke rumah sakit dan akhirnya meninggal.

BACA JUGA :  Jelang Lebaran, Wabup Minta Petugas Terkait Mengawasi Transportasi Laut Supaya Tidak Melebihi Kapasitas Muatan

“Saat ditanya penyebab kematian EPJ, pelaku gelagapan dan hanya menjawab pendarahan. Dari situ warga curiga dan dilaporkan dan kami tangkap,” ujarnya.

HS mengaku mengurus korban atau menjadi ayah angkat sejak korban masih Sekolah Dasar (SD) dikarenakan orangtua korban pergi kerja ke luar daerah.

”Jadi mereka tetanggaan sejak tahun 2014 lalu, Juli 2017 diserahkan ke pelaku oleh ibunya, karena kerja ke luar negeri. Ayah korban juga sudah lama meninggalkannya,” tutur Kompol Imron.

Persetubuhan sudah dilakukan mulai Desember 2018 hingga 30 Juni 2019 atau saat hamil. Pelaku hanya tinggal seorang diri di rumahnya karena istrinya telah lama meninggal,” simgkat nya. (Rls)

 

Sumber: PUSKOMINFO, BID HUMAS PMJ




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *