Permintaan Ikan Bandeng Ke China Meningkat

Volume permintaan ikan bandeng tambak dan ikan laut terus meningkat. Kendalanya, hampir seratus persen produk yang diekspor dari Tarakan ke negara tujuan melalui pelabuhan Surabaya. Akibatnya, membutuhkan waktu lebih lama.

 

Tarakan, infoindependen.com – Suminto Halim, Presiden Direktur PT Anugerah Mina Lestari (AML) Tarakan, optimis permintaan ikan bandeng budidaya tambak dan ikan laut akan meningkat terus. “Saya tidak melihat ada yang harus dikhawastirkan,” katanya malam tadi (19/10) melalui telepon selulernya kepada infoindependen. Com

Berdasarkan data pemasaran sektor Perikanan Kota Tarakan tahun 2019 menghasilkan 7300 ton ikan bandeng, 13.000 ton udang kepiting, dan 8.000 ton ikan laut. “Ini menunjukkan permintaan terhadap sektor perikanan dan hasil laut dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan,” ujar Suminto Halim.

Tentu saja peluang bisnis ini tidak dibiarkan Presiden Direktur perusahaan yang bergerak disektor perikanan ini berlalu. “Kami sedang mempersiapkan diri membangun secara bertahap beberapa unit pabrik yang berhubungan dengan produk perikanan di atas lahan seluas 36 Ha. Tahap pertama membangun unit coldstorage, pabrik es, dan dermaga,” katanya.

Tahap kedua, lanjut Suminto, mereka akan membangun pabrik pakan berbahan baku garbage ikan. Dan, tahap ketiga akan membangun pergudangan umum untuk disewakan dan dermaga terminal khusus untuk semua kegiatan operasional di darat.

Permasalahan yang dihadapi, seperti dikemukakan Williater Silalahi, Direktur PT AML kepada Wakil Walikota Tarakan, Efendy Djuprianto, hampir100 persen hasil laut yang diekspor dari Tarakan, Kalimantan Utara harus melalui pelabuhan Surabaya, Jawa Timur. Hal ini mengakibatkan perjalanan menuju negara importir membutuhkan waktu yang lama dan hal ini, tentu berdampak kepada  persaingan harga.

PT AML, misalnya, yang sudah melakukan ekspor ke China membutuhkan waktu  lebih kurang 34 hari. “Dari Tarakan ke Surabaya dan sebelum sampai ke negara tujuan harus mampir dibeberapa pelabuhan Internasional seperti Singapura, Pordlan Malaysia, Hai Phong, Vietnam,  kemudian China,” ujar Willy

BACA JUGA :  Ganti Rugi Sempadan, Tunggu Restu Presiden

PT AML sudah menyiapkan unit kapal Floating Coldstorage kapasitas muat 50 – 60 ton sebagai sarana angkutan dari Tarakan ke Tawau, Sabah Malaysia Timur. Dari Tarakan ke Tawau hanya memerrlukan waktu 14 – 16 jam dan dari Tawau ke pelabuhan Internasional Kota Kinabalu ditempuh dengan jalan darat membutuhkan waktu 8 – 10 jam. “Hanya dengan waktu 8 – 10 hari sudah sampai di China, artinya biaya dan waktu dapat direduksi 40 – 50%,” imbuhnya.

Tentu, peranan Pemkot Tarakan sangat besar artinya melakukan pendekatan dengan Pemerintahan Negara Bagian Sabah Malaysia Timur, untuk memperoleh izin lintas batas dan menggunakan pelabuhan menuju negara importir. Dan, ini tidak sampai disitu akan dilanjutkan ke pemerintah pusat untuk mengadakan MOU antar kedua negara.

“Tapi, ada yang luput dari perhatian pemerintah selama ini,” kata Efendy Djuprianto. Jika hasil laut dikelola di Tarakan, Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan diperoleh, tenaga kerja lokal terserap. “Bayangkan jika upah bandeng cabut duri Rp 500,-/Kg X 100 ton setiap bulan, belum lagi retribusinya,” katanya.

Untuk merangsang minat penanaman modal sektor budidaya perikanan dan perikanan laut, Pemerintah Kota Tarakan terus mendorong dan membantu mempasilitasi pelaksanaan Webinar Menarik Minat Investasi Sektor Kelautan dan Perikanan  yang dilakukan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kerlautan dan Perikanan, yang diikuti PT AML Tarakan, Jumat (16/10) lalu. (SL Pohan)