Polda Metro Jaya Tangkap 9 Pelaku Pembuat Materai Palsu, Negara Dirugikan Rp30 Miliar

Jakarta, infoindependen.com – Petugas Unit III Sat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok yang dipimpin Kanit III Iptu Falva SIK, MSi, berhasil mengungkap sekaligus meringkus pelaku tindak pidana pornografi, dengan memperjualbelikan film porno menggunakan hardisk eksternal.

Pelaku berinisial R (41 tahun) warga Pademangan, ditangkap di Jalan Sunter Paradise Kelurahan Sunter Agung Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara, pada Sabtu (16/3/2019) lalu.

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok, AKP Moh Faruk Rozi, SIK, MSI, membenarkan peristiwa penangkapan tersebut. AKP Faruk menjelaskan, tim penyelidik Unit III Krimsus mendapatkan informasi adanya penjualan film porno yang menggunakan hardisk eksternal di wilayah Jakarta Utara.

“Kemudian dilakukan penyelidikan dan benar adanya penjualan tersebut. Selanjutnya, pada tanggal 16 Maret 2019 dilakukan penangkapan terhadap R di Jl Sunter Paradise Sunter Jakarta Utara. Kini pelaku berikut barang bukti diamankan ke Polres Pelabuhan Tanjung Priok guna proses lanjut,” tutur AKP Faruk kepada wartawan, Selasa (19/03/2019).

Masih dari keterangan AKP Faruk, barang bukti yang diamankan polisi dari tangan pelaku antara lain, satu unit hardisk eksternal merek Toshiba warna hitam, kapasitas 1 TB; satu unit handphone Advan warna silver hitam; uang tunai Rp1.000.000.- (satu juta rupiah); dan satu tas selempang; dan satu bon pembelian hardisk eksternal.

Pelaku atau tersangka pun akan diancam dengan Pasal 29 jo Pasal 4 ayat (1) dan/ atau Pasal 32 Jo Pasal 6 UU No.44 tahun 2008 tentang Pornografi.

Wakapolda mengatakan, saat ini pihaknya telah menangkap sembilan orang tersangka dan satu orang masih dalam pencarian (DPO). Adapun dari tersangka itu ada satu orang yang mengkoordinir semuanya yakni ASR. Biasanya ASR menerima pesanan materai dari platform penjualan online lalu diteruskan dengan yang lain.

BACA JUGA :  Polri Soal Waspada Gangguan Kamtibmas Akhir Tahun : Kedepankan Preemtif, Preventif Dan Represif

“Setelah ASR menerima pesanan, kemudian ia mengorder ke tersangka lainnya untuk membeli bahan,” tambah Wakapolda.

Pembelian bahan pun diperoleh di bilangan Pramuka, Jakarta Timur. Setelah itu, lanjutnya, ada tersangka lain yang melakukan pencetakan di beberapa tahap. “Ternyata ada pelaku (tersangka) khusus untuk membuat hologram dan melobangi. Jadi mereka ini memiliki peran masing-masing,” kata Wakapolda.

Setelah itu, materai yang setengah jadi itu dikembalikan lagi ke ASR untuk dibuatkan gambar bunga. Kemudian baru didistribusi oleh kurir.

Wakapolda menambahkan, dengan pembuatan materai yang sangat mendetail ini, tak heran jika hasilnya secara kasat mata hampir sama dengan yang asli. Adapun materai palsu ini dibanderol lebih murah Rp 2.200, padahal yang aslinya sebesar Rp 6.000 per keping.

Berdasarkan pengakuan ASR, ia telah melakukan memalsukan materai ini sejak 2013. Bahkan, Polda Metro Jaya mencatat ini adalah tindakan ASR yang kedua karena sebelumnya ia pernah ditangkap sebelumnya dengan kasus yang sama. Sehingga, Wakapolda memperkirakan peredaran materai ini sudah hampir seluruh Indonesia tapi berpusat di Jabodetabek.

“Maka itu hingga saat ini (sementara) kerugian negara yang ditimbulkannya atas perbuatan ini kurang lebih ke capai Rp 30 miliar,” kata Wakapolda.

Tak hanya itu, saat ini barang bukti yang telah disita adalah bahan bahan dan mesin-mesin pembuatan materai palsu, materai palsu yang sudah jadi, dan buku rekening. “Dari materai palsu yang sudah jadi yang kami sita ini saja jumlahnya hampir satu juta keping dengan total nilai Rp 10 miliar,” tegas Wakapolda.

Atas perbuatannya ini kesembilan tersangka akan dijerat UU No. 13/1985 tentang Bea Masuk, KUHP Pasal 257 dan KUHP Pasal 253 dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun. (Rls-Red)

BACA JUGA :  Polri Imbau Massa Demo Tolak UU CIptaker Tenang : Jangan Terprovokasi

Sumber: PUSKOMINFO, BID HUMAS PMJ




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *