Diduga Pembangunan Jalan Bina Baru Hingga Bukit Sakai Kampar Sarat Mark Up

Riau, Infoindependen.com. Kegiatan pembangunan Jalan Bina Baru – (Sp. Tugu) – Koto Damai, Jalan Lubuk Sakai (Sp. Tugu) – Bina Baru (Sp. Tugu) dan Jalan Bina Baru (Sp. Tugu) – Bukit Sakai, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau tahun anggaran 2020, pisik pekerjaan aspal diduga sarat dengan mark up (anggaran tidak sebanding dengan ketebalan, kepadatan serta material yang digunakan).

Terbuktinya ada diduga mark up, kerena para sosial kontrol (LSM dan awak media) melihat langsung ke lokasi pembangunan jalan antara desa ke desa di salah satu lokasi di Kabupaten Kampar. Para sosial kontrol mendokomentasikan lokasi titik kegiatan (jalan yang selesai dibangun).

“Kita dari LSM sudah turun langsung bersama awak media, kegiatan investigasi kelapangan langsung karena ada laporan masyarakat ke lembaga kami, kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Lembaga Informasi Data Investigasi Korupsi dan Kriminal Khusus Republik Indonesia (LIDIK KRIMSUS RI) Ketua Umum Ossie Gumanti di Jakarta.

Dari hasil investigasi, kita menduga dari hasil cek lokasi kegiatan yang kita perhatikan, dan menilai pekerjaan lapisan pondasi agregat Kelas A, dimana metode dan pelaksanaannya di lapangan diduga tidak sesuai dengan spesifikasi dan perencanaan yang seharusnya volume ketebalan base A adalah 15 cm ketebalannya dan komposisi material yang diaduk dengan abu batu lebih kurang 20%-30% dan batu split adalah lebih kurang 60%-70%, ternyata tidak ditemukan dilapangan.

Dan laporan warga, sambung Ossi, pada divisi pekerjaan lapis pondasi agregat kelas B yang terdiri dari ketebalan 20 cm ( T ) sesuai perencanaan dan ternyata diduga tidak sesuai dengan spek. Dimana penghamparan dan ketebalan tidak memenuhi standar agregat kelas B seperti terlihat pada saat pekerjaan sedang berlangsung, bahwa kadar lumpur sangat tinggi dan juga ketebalan tidak memenuhi 20 cm, serta derajat kepadatan tidak sesuai, sehingga mutu dan kualitas ruas jalan tersebut tidak bertahan lama apabila dilakukan perhitungan harga sesuai dari kekurangan volume Base B tersebut sangat besar.

BACA JUGA :  Naskah Asli Teks Proklamasi Akan Ditampilkan Di Istana Merdeka

Pada pekerjaan ac – wc yang seharusnya ketebalannya adalah 4 cm (T). Berdasarkan hasil pantauan kami dilapangan, pada ruas jalan tersebut kuat dugaan tidak sesuai standar perencanaan. Dimana ketebalan ac-wc tersebut bervariasi ketebalannya antara 2-3-4 cm sepanjang penanganan. Kemudian campuran material tidak sesuai komposisi perbandingan, sehingga terjadi retak rambut akibat kekurangan mutu yang rendah.

“Untuk itu, kami berasumsi dan hitungan ahli di bidang tersebut, diduga kuat, dengan telah terjadinya kekurangan volume yang berpotensi menimbulkan kerugian negara,” papar Ossie.

Kemudian, lanjut Ossie, pada divisi penanganan bahu jalan yang seharusnya lebar bahu adalah 1 m dengan kebutuhan material tanah timbun pilihan, sementara lebar bahu tersebut adalah bervariasi meternya, tidak sesuai lebar sepanjang penanganan. Apabila dilakukan perhitungan kekurangan volume bahu tersebut sangat jauh.

Dan kami sudah melihat sendiri dilapangan, jalan yang belum setahun pembangunannya, saat dicek lokasi pembangunan jalan, ada di beberapa titik yang sudah rusak (pecah-red). Kalaulah pembangunan jalan dilakukan sesuai dengan spesifikasi tidak mengurangi volume sebagai manamestinya, sudah dapat kita pastikan jalan yang baru selesai dibangun kokoh dan kuat, sudah tentu dapat dipergunakan masyarakat dalam waktu panjang,” tutup Ketua Umum LIDIK KRIMSUS RI.

Terkat dugaan konspirasi keuangan negara tersebut, kepala Dinas PUPR Kabupaten Kampar (yang pernah dipanggil Kejati Riau), belum memberikan klarifikasi tekhnis tentang kegiatan pembangunan jalan desa.

Dan saat dikonfirmasikan via nomor telegramnya, Kepala Dinas PUPR Kab. Kampar belum memberikan tanggapannya, begitu juga Kabid PUPR sampai berita ini dimuat, pejabat yang paling berwenang di Kampar tersebut belum memberikan tanggapannya. (Red)