Ket foto: Ilustrasi

Kasus Pencabulan Anak Dibawah Umur Mulai Disidangkan

Tarakan, Infoindependen.com – Terdakwa tindak pidana pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur Andri, 25 tahun mulai menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Tarakan, Kalimatan Selatan (Kalsel), Senin (22/03/2021) lalu.

Dalam sidang perdananya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tutiek Mustikawati, SH menghadapkan terdakwa di depan majelis hakim yang diketuai Kurnia Sari, SH dengan anggota Yudi Kusuma A.P. SH, MH dan Melcky Johny Otoh, SH melalui persidangan virtual dan tertutup.

Warga Tanjung Batu, Kelurahan Mamburungan Timur Tarakan, Kalimantan Utara itu didakwa dengan Pasal 82 Ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atau UU RI Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 76E UU RI Nomor 35 Tahun 2014.

Dalam pasal perlindungan anak yang didakwakan Andri diancam hukuman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar, jelas Andi Aulia Rahman, SH. MH Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Tarakan, Selasa (23/03/2021) kemarin.

Perbuatan terdakwa terbongkar setelah rekaman adegan dewasa yang dilakukan anak-anak ramai diperbincangkan warga Tanjung Batu. Mendengar keluarga korban akan melapor ke Polisi, Andri dan keluarga, didampingi Ustadz Nasron semuanya warga Tanjung Batu membujuk Amis, 72 tahun ayah korban agar mau menikahkan puterinya.

“Pernikahan ini sebagai bukti rasa tanggungjawab Andri sekaligus dapat menutupi rasa malu pihak keluarga,” ujar Ustadz Nasron usai akad nikah 19 Juni 2020 seperti ditirukan Kardi, satu dari tujuh kakak korban kepada Infoindependen.

Tidak salah memang, jika Ustadz Bertausiah demikian. Namun, bagi Andri pernikahan siri itu nampaknya dijadikan sebagai alat pelindung dari jeratan hokum, karena yang terjadi usai akad nikah, dia kabur malam itu dan seminggu kemudian menulis kata-kata kasar, kotor, serta penghinaan-penghinaan melalui WA milik korban.

BACA JUGA :  Polres Metro Bekasi Kota Tes Urine Puluhan Sopir Bus Mudik Di Terminal Bekasi

“Kami sebenarnya tidak setuju dengan pernikahan tersebut, mengingat Bunga, 16 tahun (sebut saja demikian namanya) masih sekolah. Namun, karena orang tua kami sudah mengiyakan, terpaksa kami diam walau sebenarnya tahu  kondisi ayah kami sudah pikun,” ujar Ardin yang juga kakak korban.

Ibarat api disiram bensin, merasa pernikahan siri itu hanyalah akal-akalan Andri, pihak keluarga korban melapor ke Kantor Polsek Tarakan Timur di Kampung Empat Tarakan, ternyata tidak ada tanggapan. Merasa pengaduan mereka kurang direspon dan memperoleh jawaban yang kurang mengenakkan, keluarga korban akhirnya mendatangi Dinas Perlindungan Anak Kota Tarakan yang kemudian mendampingi korban dan keluarga melapor ke Polres Tarakan.

Kasusnya memang berjalan alot dan memakan waktu berbulan-bulan atau hampir setahun.  Sebagaimana diungkapkan Ardin, mereka beberapa kali menjalani pemeriksaan ulang dengan pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu juga.

“Sekali dua minggu kami datang ke Polres Tarakan untuk menanyakan kalua-kalau ada keterangan yang diperlukan, sebab setiap kami datang ke kantor Kejaksaan selalu memberi jawaban berkasnya masih di Polres Tarakan. Tapi, pada hari ini syukurlah perkaranya sudah dapat digelar,” ujar Ardin usai menghadiri sidang. (SL Pohan)